BAHAYA RADIASI NUKLIR
Banyak orang
beranggapan bahwa tinggal di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir akan
menyebabkan terkena radiasi yang tinggi. Meskipun di dalam reaktor terdapat
banyak sekali unsur radioaktif, tetapi sistem keselamatan reaktor membuat
jumlah lepasan radiasi ke lingkungan sangat kecil. Dalam kondisi normal,
seseorang yang tinggal di radius 1-6 km dari reaktor menerima radiasi tambahan
tak lebih daripada 0,005 milisievert per tahun. Nilai ini jauh lebih kecil
daripada yang diterima dari alam (kira-kira 2 milisievert per tahun) atau 1/400
nilai radiasi dari alam.
Bahan radioaktif
perlu ditangani dengan sangat hati-hati, karena bahan tersebut secara alami
aktif memancarkan "sinar" yang dikenal dengan nama radiasi nuklir,
oleh karena hal tersebut, maka bahan-bahan yang secara alami memancarkan
radiasi nuklir tersebut, disebut bahan radioaktif. Radiasi nuklir
tidak terlihat dengan mata telanjang, hanya dapat dideteksi dengan peralatan
(detektor) khusus, oleh karena itu terkadang manusia atau mahkluk hidup
lainnya, sulit bahkan tidak menyadari saat terkena suatu radiasi nuklir . Suatu
bahan radioaktif yang sedang memancarkan radiasinya, saat bersamaan mengalami
peristiwa peluruhan. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk meluruh sangat
lama (Bisa selama puluhan tahun). Hal tersebut menyebabkan perlu daerah khusus
dan penanganan khusus terhadap bahan dan bahkan sampah/limbah nuklir,
agar radiasinya tidak berdampak buruk terhadap mahkluk hidup dan lingkungan.
Lantas, apa saja dampak yang bisa ditimbulkan oleh radiasi nuklir?
Tubuh manusia yang terpapar radiasi
nuklir dosis besar akan mengalami sindrom radiasi akut (ARS) atau keracunan
radiasi yang bisa berujung pada kematian. Tingkat keparahan dan gejala yang
timbul tergantung kepada seberapa besar radiasi nuklir yang terserap tubuh.
Adapun banyaknya penyerapan radiasi tergantung kepada kekuatan energi radiasi
dan jarak tubuh dengan sumber radiasi.
Tanda dan gejala keracunan radiasi
nuklir mungkin tidak segera muncul saat tubuh terpapar radiasi nuklir dalam
jumlah besar. Gejala mungkin baru akan muncul dalam waktu beberapa jam, hingga
berminggu-minggu setelah terpapar radiasi. Gejala-gejala yang dapat muncul saat
seseorang mengalami keracunan radiasi nuklir adalah:
- Ganggaun
pencernaan, seperti mual, muntah, diare.
- Sakit
kepala.
- Demam.
- Pusing.
- Kelelahan.
- Rambut
rontok.
- Muntah darah.
- Luka,
lepuhan, dan peradangan di berbagai bagian tubuh, seperti mulut, bibir,
usus, kerongkongan, dan kulit.
Dampak buruk radiasi nuklir terhadap
kesehatan tubuh antara lain:
1. Hancurnya
sel-sel tubuh
Energi radiasi nuklir dosis tinggi
dapat menyebabkan sel-sel tubuh rusak, sehingga menimbulkan berbagai
komplikasi. Daerah tubuh yang paling rentan mengalami kerusakan akibat paparan
radiasi nuklir dosis tinggi adalah lambung, usus, mulut, pembuluh darah, dan
sel-sel yang memproduksi darah di sumsum tulang. Kerusakan yang terjadi di sumsum
tulang akan mengakibatkan tubuh tak mampu melawan infeksi atau penyakit. Ketika
hal ini terjadi, maka radiasi nuklir berisiko tinggi untuk merenggut nyawa.
2. Kanker
Banyak studi yang menunjukkan bahwa
orang yang sering terpapar radiasi nuklir, terutama anak-anak dan orang dewasa
muda, berisiko besar terkena kanker. Beberapa penyakit kanker tersebut adalah
kanker darah, kanker paru-paru, kanker kulit, kanker tulang, kanker
payudara, kanker tiroid, dan kanker otak.
3. Gangguan
tumbuh kembang anak
Efek radiasi nuklir juga berdampak
buruk bagi tumbuh kembang anak,
terutama perkembangan otak dan sarafnya. Paparan radiasi nuklir pada janin
dapat menyebabkan bayi terlahir cacat, baik cacat fisik maupun cacat mental.
4. Kerusakan jaringan
kulit
Dampak buruk radiasi nuklir juga
bisa menyebabkan kerusakan pada jaringan kulit. Orang yang terpapar radiasi
nuklir dosis tinggi akan mengalami kulit terbakar, lecet dan luka, bahkan kanker kulit.
Komentar
Posting Komentar