FISIKA TANAH
Tanah
Tanah merupakan suatu
sistem mekanik yang kompleks terdiri dari tiga fase, yakni bahan-bahan padat,
cair, dan gas. Fase padat hampir menempati 50% volume tanah sebagian besar
terdiri dari bahan mineral dan sebagian besar lainnya adalah bahan organik.
Tanah mendukung berbagai
bentuk kehidupan, khususnya pertumbuhan tanaman sebagai contoh utama. Tanah
berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman yang menangkap matahari. Dengan
fungsi tersebut tanah berperan dalam siklus global karbon. Di samping itu
kebanyakan unsur-unsur dalam usaha memelihara kehidupan berada pada
siklus yang lebih berat ke dalam tanah, dalam hubungan ini tanah menyediakan
lingkungan yang cocok untuk terlaksananya pelapukan bahan-bahan mati dengan
cukup cepat melalui aktivitas mikroorganisme terhadap senyawa-senyawa dasar
untuk dapat segera menyusul memasuki kembali siklus, terutama melalui vegetasi.
Sifat fisik tanah
mempunyai banyak kemungkinan untuk dapat digunakan sesuai dengan kemampuan yang
dibebankan kepadanya. Kemampuan untuk menjadi lebih keras dan menyangga
kapasitas drainase, menyimpan air, plastisitas, mudah untuk ditembus akar,
aerase dan kemampuan untuk menahan retensi unsur-unsur hara tanaman. Semua erat
hubungannya dengan kondisi fisik tanah.
Batas-Batas Horizon
Batas suatu horizon
dengan horizon lainnya dalam suatu profil tanah dapat terlihat jelas atau baur.
Dalam pengamatan tanah di lapang ketajaman peralihan horizon-horizon ini
dibedakan ke dalam beberapa tingkatan yaitu nyata (lebar peralihan kurang dari
2,5 cm), jelas (lebar peralihan 2,5-6,5 cm), berangsur (lebar peralihan
6,5-12,5 cm). Disamping itu bentuk topografi dari batas horizon tersebut dapat
rata, tidak teratur atau terputus.
Warna Tanah
Warna merupakan petunjuk
untk beberapa sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor
yang terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan warna permukaan tanah
umumnya oleh perbedaan kandungan bahan organik. Makin tinggi kandungan bahan
organik, warna tanah semakin gelap.
Di lapisan bawah, di mana
kandungan bahan organic umumnya randah, warna tanah banyak dipengaruhi oleh
bentuk dan banyaknya senyawa Fe yang didapat. Di daerah berdrainase buruk,
yaitu daerah yang selalu tergenang air, seluruh tanah berwarna abu-abu karena
senyawa Fe terdapat dalam keadaan reduksi (Fe++ ). Pada tanah
yang berdrainase baik, yaitu tanah yang tidak pernah terendam air, Fe terdapat
dalam keadaan oksidasi (Fe+++) misalnya dalam senyawa Fe2O3 (hematit) yang berwarna merah,
atau Fe2O3. 3H2O (limonit) yang
berwarna kuning coklat. Bila tanah kadang-kadang basah dan kadang-kadang
kering, maka disamping warna abu-abu (daerah yang tereduksi) didapat pula
bercak-bercak karatan merah atau kuning yaitu di tempat-tempat dimana udara
dapat masuk sehingga terjadi oksidasi besi di tempat tersebut. Beberapa jenis
mineral seperti kuarsa dapat menyebabkan warna tanah menjadi lebih terang.
Hubungan warna tanah
dengan kandungan bahan organik di daerah tropika sering tidak sejalan dengan di
daerah beriklim sedang (Amerika, Eropa). Tanah-tanah merah di Indonesia banyak
yang mempunyai kandungan bahan organik lebih dari satu persen, sama dengan
kandungan bahan organic tanah hitam (Mollisol) di daerah beriklim sedang.
Warna tanah ditentukan
dengan menggunakan warna-warna baku yang terdapat dalam buku
Munsell Soil Color Chart. Dalam warna buku ini warna disusun oleh tiga variable
yaitu : hue, value, dan chroma. Hue
adalah warna spectrum yang dominan sesuai dengan panjang gelombangnya. Value
menunjukkan gelap terangnya warna, sesuai dengan banyaknya sinar yang
dipantulkan. Chroma menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spectrum
(hue).
Dalam buku Munsell Soil
Color Chart, hue dibedakan menjadi 5R, 7,5R, 10R, 2,5YR, 5YR, 7,5YR, 10YR,
2,5Y, 5Y, yaitu mulai dari spectrum dominan paling merah (5R) sampai spectrum
dominan paling kuning (5Y). Di samping itu sering ditambahkan pula hue untuk
warna-warna tanah tereduksi (gley) yaitu 5G, 5GY, 5BG dan N (netral).
Value dibedakan dari 0
sampai 8, di mana makin tinggi value menunjukkan warna semakin terang (makin
banyak sinar yang dipantulkan). Chroma juga dibagi dari 0 sampai 8, dimana
makin tinggi chroma menunjukkan kemurnian spectrum atau kekuatan warna spectrum
makin meninggkat.
Warna tanah dicatat
dengan menggunakan notasi dalam buku Munsell tersebut, misalnya 7,5 YR 5/4
(coklat). Ini berarti bahwa warna tanah mempunyai hue = 7,5 YR, value = 5,
chroma = 4, yang secara keseluruhan disebut berwarna coklat. Contoh lain
misalnya 10 R 4/6 (merah), berarti hue = 10R, value = a chroma 6, yang secara
keseluruhan disebut merah. Bila didalam tanah terdapat lebih dari satu warna,
maka semua warna harus disebutkan dengan menyebutkan pula warna yang dominan.
Warna tanah akan berbeda
bila tanah basah, lembab atau kering, sehingga dalam menentukan warna tanah
perlu dicatat apakah tanah tersebut dalam keadaan basah, lembab atu kering.
Tekstur Tanah
Tanah terdiri dari
butir-butir tanah berbagai ukuran. Bagian tanah yang berukuran lebih dari 2 mm
sampai lebih kecil dari pedon disebut fragmen batuan (rock fragment) atau bahan
kasar (kerikil sampai batu). Bahan-bahan tanah yang lebih halus (< 2mm)
disebut fraksi tanah halus (fine earth fraction) dan dapat dibedakan menjadi :
Pasir : 2mm – 50µ
Debu : 50µ – 2µ
Liat :
kurang dari 2µ
Tekstur tanah
menunjukkan kasar halusnya tanah dari fraksi tanah halus (< 2mm). Berdasar
atas perbandingan banyaknya butir-butir pasir, debu dan liat maka tanah
dikelompokkan ke dalam beberapa macam kelas tekstur.
Dalam klasifikasi tanah
(Taksonomi Tanah) tingkat family, kasar halusnya tanah ditunjukkan dalam kelas
sebaran besar butir (particle size distribution) yang mencakup selutuh
tanah(fragmen batuan dan fraksi tanah halus). Kelas besar butir merupakan
penyederhanaan dari kelas tekstur tanah tetapi dengan memperhatikan pula
banyaknya fragmen batuan atau fraksi tanah yang lebih kasar dari pasar (≥2mm).
Kelas besar butir untuk fraksi kurang dari 2mm (fraksi tanah halus) meliputi:
berpasir, berlempung kasar, berlempung halus, berdebu kasar, berdebu halus,
(berliat) halus, (berliat) sangat halus. Bila fraksi tanah halus (kurang dari
2mm) sedikit sekali (<10%) dan tanah terdiri dari kerikil, batu-batu dan
lain-lain (≥ 90% volume) disebut fragmental. Bila tanah halus
termasuk kelas berpasir, berlempung atau berliat, tetapi mengandung 35%-90%
(volume) fragmen batuan (kerikil, batu-batu) maka kelas sebaran besar butirnya
disebut berpasir skeletal, berlempung skeletal, dan berliat
skeletal.
Tanah-tanah berstektur
pasir, karena butir-butirnya berukuran lebih besar, maka setiap satuan
berat(misalnya seberukuran lebih besar, maka setiap satuan berat (misalnya
setiap gram) mempunyai permukaan luas yang lebih kecil sehingga sulit menyerap
(menahan) air dan unsur hara. Tanah-tanah bertekstur liat, karena lebih halus
maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga
kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus
lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar.
Dilapang tekstur tanah
dapat ditentukan dengan memijit tanah basah diantara jari-jari, sambil
dirasakan halus kasarnya yaitu dirasakan adanya butir-butir pasir, debu dan
liat, sebagai berikut:
§ Pasir:
Rasa kasar sangat jelas,
tidak Melekat, tidak dapat dibentuk bola dan gunungan
§ Pasir berlempung:
Rasa kasar jelas,
sedikit sekali melekat, dapat dibentuk bola yang mudah sekali hancur
§ Lempung Berpasir:
Rasa kasar agak jelas,
agak melekat, dapat dibuat bola, mudah hancur
§ Lempung:
Rasa tidak kasar dan
tidak licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk
golongan yang agak mudah hancur.
§ Lempung Liat Berpasir:
Rasa halus dengan
sedikit bagian agak kasar, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dapat
dibentuk gulungan agak hancur
§ Lempung liat berdebu:
Rasa halus agak licin,
melekat, dapat dibentuk bola teguh, gulungan mengkilat
§ Liat Berpasir:
Rasa halus, berat,
tetapi terasa sedikit kasar, melekat, dapat dibentuk bola teguh, mudah digulung
§ Liat Berdebu:
Rasa halus, berat, agak
licin, sangat lekat, dapat dibentuk bola teguh, mudah digulung
§ Liat:
Rasa berat, halus, sangat
lekat, Dapat dibentuk bola dengan baik, mudah digulung.
Struktur Tanah
Struktur tanah merupakan
gumpalan kecil dari butir-butir tanah. Gumpalan struktur ini terjadi karena
butir-butir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat
seperti bahan organik, oksida-oksida besi dan lain-lain.
Gumpalan-gumpalan kecil
ini mempunyai bentuk, ukuran, dan kemantapan (ketahanan) yang berbeda-beda.
Konsistensi Tanah
Konsistensi adalah daya
tahan atau ketahanan tanah terhadap pengaruh-pengaruh luar yang akan mengubah
keadaannya.
Terdapat dua kekuatan
utama yang bekerja atau berperan pada konsistensi tanah ini, yaitu gaya kohesi
(gaya tarik-menarik antara molekul) dan gaya tegangan permukaan (adhesi) pada
berbagai kelembaban tanah. Sebagai tambahan dari kedua gaya ini terdapat
beberapa faktor lain yang juga bekerja pada konsistensi tanah ini, yaitu
kandungan bahan organik, oksida dan hidroside Fe dan Al dan kalsium karbonat.
Pada waktu membajak atau
mencangkul tanah maka akan terasa bahwa tanah itu akan mudah atau sukar diolah.
Hal ini dapat dikatakan bahwa tanah tersebut berkonsistensi tertentu.
Konsistensi yang paling
besar yait pada keadaan paling kering yang disebabkan oleh adanya gaya kohesi,
konsistensi sedang pada waktu keadaan lembab karena adanya gaya adhesi, dan
konsistensi rendah/sangat rendah apabila ada dalam keadaan basah, sangat
basah/jenuh air.
Berdasarkan kelembaban
tanah maka konsistensi ini keadaanya dapat diutraikan sebagai berikut:
- Pada
keadaan kelembaban tinggi (jenuh air) tanah dalam keadaan dapat mengalir
atau kental.
- Apabila
kadar air berangsur dikuranngi maka tidak dapat mengalir lagi, keadaanya
disebut lekat, liat, atau lunak.
- Apabila
kadar air lebih dikurangi lagi maka tanh akan kekurangan sifat melekatnya
dan liatnya, berubah menjadi gembur, retak lunak, dan retak.\Bila kadar
air lebih kurang dari (b) di atas, keadaan tanah menjadi kering, sukar
dibelah, keras dan kasar bila diraba, seihngga konsistensinya dinyatakan
paling tinggi.
Temperatur Tanah
Temperatur tanah
merupakan salah satu sifat fisik tanah yang terutama sangat berpengaruh kepada
proses-proses yang terjadi di dalam tanah seperti pelapukan dan penguraian
bahan induk, reaksi-reaksi kimia dan lain-lain dan dapat mempemngaruhi langsung
pada pertumbuhan tanaman melalui perubahan kelembaban tanah, aerasi , aktivitas
mikrobia, ketersediaan unsur hara tanaman, dan lain-lain. Pertunasan atau
perkecambahan biji dapat dirangsang oleh temperatur yang cukup, begitu pula
untuk pertumbuhan yang baik tiap jenis tanaman menghendaki keadaan temperatur
tertentu yang cocok.
Umumnya fluktuasi atau
naik-turunnya temperatur dalam tanah lebih kecil daripada fluktuasi temperatur
udara. Hal ini akan menyebabkan temperatur udara menjadi faktor pembatas yang
lebih utama daripada temperatur tanah.
Temperatur tanah
mempengaruhi aktivitas jasad renik dalam tanah. Hal ini terbatas pada
temperatur dibawah 10 oC. Tingkat aktivitas
optimum bagi jasad hidup tanah terjadi pada temperatur antara 18 oC-30 oC. Bakteri dapat
memfiksasi nitrogen dari udara dengan baik yaitu pada keadaan panas atau agak
tanah kering. Pada temperatur diatas 40 oC jasad hidup tanah
tidak dapat aktif. Begitu pula nitrifikasi tergantung kepada temperatur, dengan
temperatur sekitar 30 oC sebagai temperatur
yang optimum. Temperatur rendah memperlambat pengambilan kalium oleh akar
tanaman. Temperatur lapisan tanah mengalami perubahan selama 24 jam dalam satu
hari, dan perubahan ini tergantung pada musim. Sedangkan lapisan tanah bawah
sampai kedalaman satu meter tidak banyak mengalami perubahan temperatur.
Perubahan temperatur ini tergantung pada banyaknya panas yang diterima dari
matahari. Hal ini banyak dipengaruhi oleh keadaan cuaca, bentuk daerah, dan
keadaan tanah.
REFERENSI
Hardjowigeno, Sarwono.
2003. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo
Sarief, Saifuddin.
1986. Ilmu Tanah Pertanian. Bandung: Pustaka Buana
Komentar
Posting Komentar