makalah model pembelajaran pengajaran langsung
MODEL PEMBELAJARAN PENGAJARAN LANGSUNG
NAMA : RANI RAMADHAN
NIM :
A1C317072
PENDIDIKAN
MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
UNIVERSITAS
JAMBI
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada hakekatnya adalah pemberian bantuan kepada orang lain
secara sadar dan terencana untuk mewujudkan dan mengaktifkan potensi orang
lain, agar yang bersangkutan memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Pendidikan adalah suatu kegiatan yang sistematik dan
sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik yang berlangsung
di semua lingkungan yang saling mengisi (lingkungan rumah, sekolah dan
masyarakat).
Masalah interaksi di kelas, yaitu komunikasi antara guru dan murid dalam
proses belajar mengajar di kelas merupakan masalah pendidikan yang sangat
menarik untuk dibicarakan yang sampai kini tidak pernah ada habisnya. Oleh
karena itu bagi para pendidik serta pengelola pendidikan senantiasa diharapkan
pemecahannya guna menuju proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan
baik. Setiap guru harus memiliki keahlian di dalam memilih model
pengajaran yang dipakai sehari-hari di kelas. Pemilihan model yang tepat dalam
pengajaran tentu saja berorientasi pada tujuan pengajaran termasuk tujuan
setiap materi yang akan diberikan pada siswa.
Dari beberapa model pengajaran yang baru, salah satu bentuk atau model
penyajian materi yang penting untuk diketahui adalah model pengajaran langsung
(Direct Instruction). Model
pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan
pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif. Pengetahuan deklaratif
adalah pengetahuan tentang sesuatu sedangkan pengetahuan prosedural adalah
pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu yang keduanya berstruktur
dengan baik dapat dipelajari selangkah demi selangkah.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana konsep model pembelajaran pengajaran langsung?
2.
Apakah tujuan model pembelajaran pengajaran langsung?
3.
Bagaimana karakteristik model
pembelajaran pengajaran langsung?
4.
Bagaimana prinsip model pembelajaran pengajaran langsung ?
5.
Bagaimanakah perencanaan
model pembelajaran pengajaran langsung?
6.
Bagaimanakah
pelaksanaan model pembelajaran pengajaran langsung?
7.
Apa sajakah sintaks model pembelajaran pengajaran langsung?
8.
Bagaimana
pengelolaan lingkungan model pembelajaran pengajaran langsung?
9.
Bagaimana
penilaian model pembelajaran pengajaran langsung?
10.
Apa saja kelebihan dan kekurangan model pembelajaran pengajaran langsung?
1.3
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui konsep model
pembelajaran pengajaran langsung.
2.
Untuk mengetahui tujuan model
pembelajaran pengajaran
langsung.
3.
Untuk memahami karakteristik
model pembelajaran pengajaran langsung.
4.
Untuk memahami prinsip model pembelajaran pengajaran langsung
5.
Untuk
mengetahui perencanaan model pembelajaran pengajaran langsung.
6.
Untuk
mengetahui pelaksanaan model pembelajaran pengajaran langsung.
7.
Untuk memahami
sintak model pembelajaran pengajaran langsung.
8.
Untuk
mengetahui pengelolaan lingkungan model pembelajaran pengajaran langsung.
9.
Untuk memahami
penilaian model pembelajaran pengajaran langsung.
10.
Untuk
mengetahui kelebihan dan kekurangan model pembelajaran pengajaran langsung.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Konsep Model Pembelajaran Pengajaran Langsung
2.1.1
Konsep Model Pembelajaran
Model Pembelajaran berasal dari kata Model dan Pembelajaran.
”Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman
dalam melakukan suatu kegiatan” (Nur dan Kardi, 2000: 78).
Menurut Pritandhari (2017: 48-49) model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang
pembelajaras belajar dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar
mengajar. Hal ini berarti model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi
guru untuk mengajar. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada
strategi, metode atau prosedur.
Menurut Joyce dalam Ni’mah (2013: 3) model
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam
tutorial dan untuk menentukan perangkatperangkat pembelajaran termasuk di
dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum dan lain-lain
Adapun Soekamto dalam Ni’mah (2013: 3) mengemukakan
maksud dari model pembelajaran adalah “Kerangka konseptual yang melukiskan
prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk
mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para
perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar
mengajar.” Hal ini
sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model
pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar.
Arends dalam Ni’mah (2013: 3) menyatakan “The term teaching model refers to a
particular approach to instruction that includes its goals, syntax, environment,
and management system.” Istilah model pengajaran mengarah pada suatu
pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungannya,
dan sistem pengelolaannya.
Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar tertentu, dan dapat berfungsi sebagai pedoman bagi perancang
pembelajaran dan para pendidik dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas
proses belajar mengajar.
2.1.2 Konsep Pembelajaran Pengajaran
Langsung
Menurut
Pritandhari (2017: 50)
Direct Instruction atau
pembelajaran langsung merupakan suatu pembelajaran yang mempunyai
langkah-langkah tertentu yang dapat menuntun siswa dalam mempelajari suatu
materi yang bersifat prosedural.
Pengajaran langsung
adalah model pembelajaran yang berpusat pada guru, yang mempunyai 5 langkah
dalam pelaksanaannya, yaitu menyiapkan siswa menerima pelajaran, demontrasi,
pelatihan terbimbing, umpan balik, dan pelatihan lanjut (mandiri) (Nur dan
Kardi, 2000: 7).
Menurut Maulana, dkk
(2015: 170-173) model Direct Instruction
merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa dalam mempelajari
keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi
selangkah. Pendekatan mengajar ini sering disebut “Model Pengajaran Langsung”.
Menurut Arends dalam
Ni’mah (2013: 2) model pembelajaran langsung adalah salah satu pendekatan
mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang
berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang
terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang
bertahap, selangkah demi selangkah.
Model pembelajaran
langsung banyak diilhami oleh teori belajar sosial yang juga sering disebut
belajar melalui observasi. Arends dalam Ni’mah (2013: 3-4), menyebutnya sebagai
teori hal 3 pendekatan tingkah laku. Tokoh lain yang menyumbang dasar
pengembangan model pembelajaran langsung adalah John Dolard, Neal Miller,
Albert Bandura yang percaya bahwa sebagian besar manusia belajar melalui
pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain atau lebih
dikenal pemodelan. Pemikiran mendasar dari model pembelajaran langsung adalah
bahwa siswa belajar dengan mengamati secara selektif, mengingat dan menirukan
tingkah laku seorang guru.
Menurut Zahriani (2014: 98-99) Direct
Instruction merupakan model pembelajaran yang
menekankan penyampaian materi dilakukan secara verbal oleh guru kepada para
peserta didik. Model ini lebih menekankan pada proses bertutur maka sering
disebut juga dengan istilah chalk and talk (ceramah dan mencatat).
Menurut Lefudin (2017:
43) model pengajaran langsung (Direct
Instruction) merupakan suatu
pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa dalam mempelajari keterampilan
dasar dan memperoleh informasi. Model pengajaran langsung dirancang secara
khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan
pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari
selangkah demi selangkah. Menghafal hukum atau rumus tertentu dalam sains
merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana. Sedangkan bagimana cara
mengoperasikan alat alat ukur dalam sains mempakan contoh pengetahuan
prosedural.
Model pengajaran langsung
(Direct Instruction) secara empirik
dilandasi oleh teori belajar yang berasal dari rumpun perilaku (Behavior Family). Teori belajar perilaku
menekankan pada perubahan perilaku sebagai hasil belajar yang dapat
diobservasi. Menurut teori ini, belajar bergantung pada pengalaman termasuk
pemberian umpan balik dan lingkungan.
Apabila guru menggunakan
model pengajaran langsung ini, guru mempunyai tanggung jawab untuk
mengidentifikasi tujuan pembelajaran dan tanggung jawab yang besar terhadap
penstrukturan isi/materi atau keterampilan, menjelaskan kepada siswa,
pemodelan/mendemonstrasikan yang dikombinasikan dengan latihan, memberikan
kesempatan pada siswa untuk berlatih menerapkan konsep atau keterampilan yang
telah dipelajari serta memberikan umpan balik.
2.2
Tujuan Model Pembelajaran Pengajaran Langsung
Menurut Zahriani (2014:
98-99) model Direct Instruction selain efektif digunakan agar siswa
menguasai suatu pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif sederhana,
model ini juga efektif untuk mengembangkan keterampilan belajar siswa. Beberapa
keterampilan belajar siswa yang dapat dikembangkan oleh guru, seperti
menggarisbawahi, membuat catatan, dan membuat rangkuman. Perhatian siswa yang
penuh pada proses pembelajaran akan memudahkan siswa dalam menyerap pengetahuan
yang diberikan, sehingga siswa dapat mengembangakan kemampuan membuat catatan,
rangkuman ataupun poin penting.
Joyce and Weil (1996: 344) said “a major goal of direct instruction is
the maximization of student learning time. The most prominent features are an
academic focus, a high degree of teacher direction and control, high expectations
for pupil progress, a system for managing time, and an atmosphere of relatively
neutral affect. Academic focus means one places highest priority
on the assignment and completion of academic tasks”. Tujuan utama dari pengajaran langsung
adalah pemaksimalan waktu belajar siswa. Fitur yang paling menonjol adalah
fokus akademis, arahan dan kontrol guru yang tinggi, harapan tinggi untuk
kemajuan murid, sistem untuk mengatur waktu, dan suasana pengaruh yang relatif
netral. Fokus akademik berarti satu tempat menempatkan prioritas tertinggi pada
penugasan dan penyelesaian tugas akademik.
2.3 Karakteristik Pembelajaran Pengajaran
Langsung
Menurut Ni’mah (2013: 2) salah satu ciri-ciri model
pembelajaran langsung adalah adanya pemodelan atau pendemonstrasian tentang
materi yang bersifat prosedural yang dilakukan oleh guru dan ditunjukkan kepada
siswa. Pendemonstrasian tentang pengetahuan prosedural dilakukan oleh guru di
awal pembelajaran. Pendemonstrasian ini dapat berupa pendemonstrasian
langkah-langkah belajar yang bersifat prosedural untuk memecahkan suatu
masalah, sehingga pendemonstrasian dapat
mempengaruhi minat belajar siswa, meningkatkan rasa ingin tahu siswa, memancing
siswa untuk belajar berpikir, belajar menyelesaikan masalah dengan mengambil
keputusan yang benar serta terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Menurut Maulana, dkk (2015: 170-173) ciri-ciri pembelajaran
langsung sebagai berikut:
1. Adanya tujuan pembelajaran dan
prosedur penilaian hasil belajar.
2. Sintaks atau pola keseluruhan dan
alur kegiatan pembelajaran.
3. Sistem pengelolaan dan lingkungan
belajar yang mengukung berlangsung dan berhasilnya pengajaran.
Menurut Gagne dalam Nur dan Kardi (2000: 4-5) dalam
Model Direct Instruction terdapat dua macam pengetahuan, yakni
pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif
adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah
pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Namun, kedua pengetahuan
tersebut tidak terlepas antara satu sama lain, sering kali penggunaan
prosedural memerlukan pengetahuan deklaratif yang merupakan pengetahuan
prasyarat. Model Direct Instruction
dirancang untuk mengembangkan cara belajar siswa tentang pengetahuan prosedural
dan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi
selangkah.
Menurut Nur dan Kardi (2000: 57-59) tentang Model Direct Instruction dapat dirangkum
sebagai berikut:
1.
Salah
satu tujuan pembelajaran yang penting dari setiap mata pelajaran di sekolah
ialah memperoleh informasi dan keterampilan-keterampilan dasar. Sebelum siswa
mempelajari informasi dan keterampilan lanjut, mereka harus terlebih dahulu
menguasai informasi dan keterampilan dasar.
2.
Untuk
tercapainya tujuan seperti yang tertulis pada butir (1), guru menggunakan Model
Direct Instruction. Model pengajaran ini mempunyai landasan empirik dan
teoritik dari anallisis system, teori pemodalan tingkah laku, dan penelitian
tentang keberhasilan guru dalam mengajar.
3.
Dampak
instruksional dari model pengajaran langsung ialah mengembangkan penguasaan
keterampilan sederhana dan komplek serta pengetahuan deklaratif yang dapat
dirumuskan dengan jelas dan diajarkan tahap demi tahap.
4.
Direct Instruction pada umumnya mempunyai lima fase, menjelaskan tujuan pembelajaran dan
menyiapkan siswa; mendemonstrasikan atau menjelaskan materi yang akan
dipelajari oleh siswa; memberikan bimbingan praktek; mengecek pemahaman siswa
dan memberikan balikan; dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih
sendiri dan menerapkan hasil belajar.
5.
Model
Direct Instruction memerlukan
lingkungan pembelajaran terstruktur dengan baik dan uraian guru yang jelas.
6.
Pada
tahap perencanaan perumusan tujuan dan analisis tugas, perlu mendapat perhatian
yang seksama.
7.
Dalam
melaksanakan Direct Instruction, guru
perlu memberikan uraian yang jelas, mendemonstrasikan dan memperagakan tingkah
laku dengan benar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih.
8.
Pelatihan
perlu dilandasi oleh prinsip-prinsip sebagai berikut: Berikan pelatihan singkat
dan frekwensi yang tidak berlebihan; Siswa benar-benar menguasai keterampilan
yang dilatihkan; Menggunakan pelatihan berkelanjutan atau pelatihan berselang.
9.
Direct Instruction menuntut pengolaan kelas yang unik,
menarik dan mempertahankan perhatian siswa dari awal sampai selesainya proses
pembelajaran.
10.
Pengolaan
kelas yang juga perlu memperoleh perhatian ialah mengatur tempo pembelajaran,
kelancaran alur pembelajaran, mempertahankan ketertiban dan peserta siswa, dan
menangani dengan cepat penyimpangan-penyimpangan tingkah laku siswa.
11.
Penilaian
hasil belajar siswa ditekankan pada praktek pengembangan dan penerapan
pengetahuan dasar yang sesuai, mengukur dengan teliti keterampilan sederhana
dan yang kompleks, serta memberikan umpan balik kepada siswa.
12.
Dari
uraian diatas, keterampilan atau kecakapan siswa, baik kognitif mapun fisik
harus dijadikan landasan oleh guru ataupun siswa untuk membangun hasil belajar
yang maksimal. Karena bagaimanapun sebelum siswa memperoleh dan memproses
sejumlah informasi atau suatu pengetahuan, mereka harus menguasai strategi
belajar dahulu, seperti membuat catatan dan merangkum isi bacaan.
Begitu juga sebelum siswa mampu
berpikir secara kritis, mereka harus mampu terlebih dahulu menguasai
dasar-dasar ilmu logika dan begitu juga dengan hal-hal yang lain. Maka
disinilah seorang guru dituntut mampu mengausai metode pengajaran langsung (Direct
Instruction) untuk membantu siswa mencapainya dengan maksimal.
2.4
Prinsip Model Pembelajaran Pengajaran Langsung
Menurut Lefudin (2017: 186) model pembelajaran langsung memiliki
penilaian yang tidak terlepas dari system penilaiannya. Menurut Gronlund (dalam
depdiknas, 2004) bahwa terdapat lima prinsip dasar dalam model pembelajaran
langsung. Lima prinsip dasar tersebut terdiri dari:
1. Sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Mencakup semua tugas pembelajaran.
3. Menggunakan soal tes yang sesuai.
4. Buatlah soal sevalid dan seriabel
mungkin.
5.
Memanfaatkan hasil tes untuk memperbaiki proses
belajar mengajar berikutnya.
Menurut Zahriani (2014:
100-101) dalam
penggunaannya Direct Instruction memiliki beberapa prinsip yang harus
diperhatikan oleh setiap guru. Adapun prinsip-prinsip yang dimaksud adalah
sebagai berikut:
1.
Memulai pelajaran dengan
pernyataan singkat tentang tujuan.
2.
Memulai pelajaran dengan
pengulangan singkat pelajaran lalu, sebagai prasyarat belajar materi
selanjutnya.
3.
Menyampaikan materi baru dalam
langkah-langkah kecil, dengan melatih siswa pada setiap langkahnya.
4.
Memberi penjelasan dan pembelajaran
secara detil.
5.
Menyajikan latihan aktif secara
intensif pada semua siswa.
6.
Mengajukan sejumlah pertanyaan,
memeriksa pemahaman siswa, mengumpulkan tanggapan dari semua siswa.
7.
Membimbing siswa selama latihan.
8.
Memberikan umpan balik dan koreksi
secara sistematis.
9.
Memberikan pembelajaran dan
pelatihan secara eksplisit ketika siswa menyelesaikan tugas kapan saja
dibutuhkan.
10. Memberikan latihan lanjutan kepada siswa.
2.5
Perencanaan Model Pembelajaran Pengajaran Langsung
Menurut Maulana, dkk (2015: 170-173) tata cara mengadakan tugas perencanaan,
antara lain:
1. Merumuskan tujuan pengajaran
2. Memilih isi
Guru harus mempertimbangkan berapa banyak informasi yang akan
disampaikan dalam kurun waktu tertentu. Guru harus selektif dalam memilih
konsep yang akan diajarkan dengan model pengajaran langsung.
3. Melakukan analisis tugas
Dengan menganalisis tugas, akan membantu guru menentukan
dengan tepat apa yang perlu dilakukan siswa untuk melaksanakan keterampilan
yang dipelajari.
4. Merencanakan waktu
Guru harus memperhatikan bahwa waktu yang tersedia sepadan
dengan kemampuan dan bakat siswa, dan memotivasi siswa agar melakukan
tugas-tugasnya dengan perhatian yang optimal.
2.6
Pelaksanaan Model Pembelajaran Pengajaran Langsung
Pembelajaran langsung menurut Kardi
dalam Ni’mah (2013: 4) dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau
praktek, dan kerja kelompok. Pembelajaran langsung digunakan untuk menyampaikan
pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada siswa. Penyusunan
waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran harus seefesien
mungkin, sehingga guru dapat merancang dengan tepat waktu yang digunakan.
Menurut Zahriani (2014:
98-99) metode ceramah dan bertanya menjadi dasar dari semua metode pembelajaran
lainnya. Metode ceramah dan bertanya merupakan model di mana guru memberi
presentasi lisan dan peserta didik dituntut menanggapi atau mencatat penjelasan
guru. Ceramah digunakan untuk menjelaskan informasi dalam waktu singkat atau
untuk mengawali dan menjelaskan tugas belajar. Direct Instruction dirancang
untuk proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif
sederhana dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat
diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Oleh
karenanya dalam konsep Direct Instruction materi bukan hanya disampaikan
dengan metode ceramah dan mencatat saja, melainkan siswa jugadiajarkan untuk
mereview materi yang telah disampaikan oleh guru dalam urutan langkah yang
telah disederhanakan, penguasaan materi yang telah diajarkan menjadi syarat
bagi siswa untuk dapat melanjutkan kepelajaran berikutnya.
Zahriani (2014: 101-102) mengatakan
bahwa, ada beberapa langkah yang hendaknya dipenuhi dalam
penerapan model Direct Instruction ini yaitu:
1. Persiapan (Preparation)
Keberhasilan pelaksanaan model Direct Instruction sangat
tergantung pada langkah kesiapan. Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan
kesiapan adalah:
a. Mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif.
b. Membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajar.
c. Merangsang dan menggugah rasa ingin tahu siswa .
d. Menciptakan suasana atau iklim pembelajaran yang terbuka.
2. Penyajian
Penyajian yang akan disampaikan harus sesuai dengan persiapan yang
telah dilakukan, dan harus dipikirkan juga bagaimana taktik penyampaian yang
akan digunakan, agar materi yang disampaikan mudah untuk dipahami
3. Korelasi
Korelasi adalah kemampuan yang diharapkan akan muncul pada siswa yaitu
kemampuan untuk menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau
dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya
dalam struktur pengetahuan yang telah dimilikinya.
4. Menyimpulkan (Generalization)
Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti dari materi yang
diajarkan. Menyimpulkan berarti memberikan suatu keyakinan pada siswa tentang
kebenaran suatu paparan.
5. Mengaplikasikan (Aplication)
Pada langkah ini guru akan dapat mengumpulkan informasi tentang
penguasaan dan pemahaman materi oleh siswa. Teknik yang biasanya digunakan
dalam tahap ini diantaranya pertama, dengan memberikan tugas yang
relevan dengan materi yang telah diajarkan. Kedua, memberikan tes yang
sesuai dengan materi ajar yang telah diberikan.
Zahriani (2014: 102-103) mengatakan
bahwa, Model Direct Instruction bertumpu pada
prinsip-prinsip psikologi prilaku dan teori belajar sosial, khususnya tentang
pemodelan (modeling). Belajar yang dialami manusia sebagian besar
diperoleh dari suatu pemodelan, yaitu meniru prilaku dan pengalaman
(keberhasilan dan kegagalan) orang lain. Sesuatu yang dipelajari dengan
perhatian yang dilakukan secara sadar dan tersimpan di dalam memori jangka
panjang akan dapat diulang kembali dengan perbuatan serupa oleh si pengamat.
Untuk memudahkan guru menerapkan model pembelajaran ini maka langkah-langkah modelling
yang diterapkan dalam model Direct Instruction ini kedalam beberapa
fase yaitu : fase atensi, fase retensi, fase produksi, dan fase motivasi yang
dalam pendidikan dilaksanakan sebagai berikut :
1. Fase atensi: a). Guru (model) memberikan demontrasi didepan siswa.
Peserta didik melakukan observasi terhadap demontrasi tersebut pada lembaran
yang telah disediakan, b). Guru beserta peserta didik mendiskusikan hasil
pengamatan yang dilakukan. Tujuannya untuk mencari kekurangan dan kesulitan
peserta didik dalam memahami materi yang disampaikan guru serta melatih siswa
dalam menggunakan lembaran observasi.
2. Fase retensi: diisi dengan kegiatan guru menjelaskan demontrasi yang
telah diamati siswa.
3. Fase produksi: pada fase ini siswa ditugasi mempersiapkan
langkah-langkah demontrasi sendiri sesuai dengan contoh yang telah disajikan.
4. Fase motivasi: berupa presentasi hasil kegiatan dan diskusi.
2.7
Sintaks Model Pembelajaran Pengajaran Langsung
Menurut
Pritandhari (2017: 50) pada
model pembelajaran Direct Instruction terdapat lima fase yang sangat
penting. Sintaks model tersebut disajikan dalam lima tahap antara lain:
1. Fase orientasi/menyampaikan tujuan.
2. Fase presentasi/demonstrasi.
3. Fase latihan terbimbing.
4. Fase mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.
5. Fase latihan mandiri.
Tahap-tahap pada model
pembelajaran direct instruction disusun berdasarkan tahap pendahuluan
yaitu pada fase orientasi atau menyampaikan tujuan pembelajaran. Selanjutnya
adalah tahap memberikan materi dengan presentasi/demonstrasi, dan latihan
terbimbing. Sebagai tahap penutup yaitu mengecek kembali pemahaman siswa dan
memberikan umpan balik serta memberikan latihan mandiri.
Menurut Rasmi (2017 : 163-164) pembelajaran langsung terbagi atas 5 fase yang
akan dilakukan yaitu sebagai berikut:
1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik
Semua peserta didik perlu mengetahui dengan jelas mengapa mereka harus
berpartisipasi dalam suatu pembelajaran, apa yang harus mereka lakukan setelah
selesai berperan serta dalam pembelajaran. Sebagai guru yang baik akan
mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada peserta didik-peserta didiknya melalui
rangkuman rencana pembelajaran, dengan demikian peserta didik dapat melihat
keseluruhan tahap pembelajara dan hubungan antara tahap- tahap tersebut.
Kemudian menyiapkan peserta didik yang bertujuan untuk menarik dan
memusatkan perhatian peserta didik, dan mengingatkan kembali pada hasil belajar
yang telah dimilikinya yang relevan dengan pokok pembelajaran yang akan
dipelajari. Tujuan ini dapat dicapai dengan jalan mengulang pokok-pokok
pelajaran yang lalu, atau memberikan sejumlah pertanyaan kepada peserta didik
tentang pokok-pokok pelajaran yang lalu.
2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
Fase kedua pembelajaran langsung adalah melakukan presentasi atau
demonstrasi pengetahuan dan keterampilan. Kunci untuk berhasil ialah
mempresentasikan informasi sejelas mungkin dan mengikuti langkah-langkah
demonstrasi yang efektif dan dilakukan tahap demi tahap agar peserta didik
dapat memahami apa yang disampaikan.
3. Membimbing pelatihan
Salah satu tahap penting dalam pembelajaran langsung ialah cara guru
mempersiapkan dan melaksanakan pelatihan terbimbing, keterlibatan peserta didik
secara aktif dalam pelatihan membuat belajar berlangsung dengan lancar dan
memungkinkan peserta didik menerapkan konsep/ keterampilan pada situasi yang
baru.
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
Tahap ini disebut juga dengan tahap retitasi, yaitu guru memberikan
pertanyaan lisan atau tertulis kepada peserta didik, dan guru memberikan respon
terhadap jawaban peserta didik. Kegiatan ini merupakan aspek penting
pembelajaran langsung, karena tanpa mengetahui hasilnya latihan tidak banyak
manfaatnya kepada peserta didik.
Kemudian guru dapat menggunakan berbagai cara untuk memberikan umpan
balik yaitu secara lisan, tes atau komentar tertulis karena tanpa umpan balik
peserta didik tidak mungkin dapat memperbaiki kekurangannya, dan tidak dapat
mencapai tingkat penguasaan keterampilan dengan baik.
5. Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan
Pada tahap ini, guru memberikan tugas pada peserta didik untuk
menerapkan keterampilan yang sudah diperoleh. Kegiatan ini dilakukan oleh
peserta didik secara pribadi yang dilakukan dirumah atau diluar jam pelajaran.
According to Joyce and Weil
(1996: 349-351) the direct instruction model consists of ive phases of
activity: Phase one is the orientation phase in which a framework for the
lesson is established. Phase two is the presentation phase, in which the
teacher explains the new concept or skill and provides demonstrations and
examples. Structured practice comes next. Phase four, guided practice, gives
students the opportunity to practice on their own while the teacher is still in
the environment.. Independent practice is the last phase of the direct instruction
mode. Model
pembelajaran langsung terdiri dari lima fase kegiatan: Fase satu adalah fase
orientasi di mana kerangka kerja untuk pelajaran dibuat. Fase dua adalah fase
presentasi, di mana guru menjelaskan konsep atau keterampilan baru dan
memberikan demonstrasi serta contoh. Latihan terstruktur datang berikutnya.
Fase empat, praktik terbimbing, memberi siswa kesempatan untuk berlatih sendiri
saat guru masih berada di lingkungan. Praktek mandiri adalah fase terakhir dari
model pengajaran langsung.
2.8
Pengelolaan Lingkungan Model Pembelajaran Pengajaran Langsung
Joyce and Weil (1996: 344) said “the behaviors incorporated into direct
instruction are designed to create a structured, academically oriented learning
environment in which students are actively engaged during instruction and are
experiencing a high rate of success in the tasks they are given.” Perilaku yang dimasukkan ke dalam pembelajaran langsung dirancang untuk
menciptakan lingkungan belajar yang terstruktur, berorientasi akademis di mana
siswa terlibat aktif selama pengajaran dan mengalami tingkat keberhasilan yang
tinggi dalam tugas yang mereka lakukan.
Menurut Lefudin (2017:
183-184) pembelajaran langsung memerlukan perencanaan dan
pelaksanaan yang cukup rinci terutama pada analisis tugas. Pembelajaran
langsung berpusat pada guru, tetapi harus menjamin terjadinya keterlibatan
peserta didik. Jadi, lingkungan harus diciptakan yang berorientasi pada
tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik.
2.9
Penilaian Model Pembelajaran Pengajaran Langsung
Menurut Maulana, dkk (2015:
170-173) lima prinsip dasar dalam merancang sistem penilaian:
1. Sesuai dengan tujuan pengajaran
2. Mencakup semua tugas pengajaran
3. Menggunakan soal tes yang sesuai
4. Buatlah soal yang valid dan
sereliabel mungkin
5. Menfaatkan hasil tes untuk
memperbaiki proses belajar mengajar berikutnya.
2.10
Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Pengajaran Langsung
Menurut Lefudin (2017:
44-47) kelebihan model pembelajaran langsung adalah guru mengendalikan isi
materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat
mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa. Berikut ini
beberapa kelebihan dari model pcmbelajaran langsung:
1.
Dapat
diturapkan secara efeklif daiam kelas yang besar maupun kecil.
2.
Dapat
digunakan untuk menekankan poin poin panting atau kesulitan kesulitan yang
mungkin dihadapi siswa sehingga hal hal tersebut dapat diungkapkan.
3.
Dapat
menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan informasi dan pengetahuan faktual
yang sangat terstruktur.
4.
Merupakan
cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan keterampilan
yang eksplisit kepada siswa yang berprestasi rendah.
5.
Dapat
menjadi Cara untuk menyampaikan informasi yang banyak dalam waklu yang relatif
singkat yang dapat diakses secara setara oleh seluruh siswa.
6.
Memungkinkan
guru untuk menyampaikan ketertarikan pribadi mengenai mata pelajaran (melalui
presentasi yang antusias) yang dapat merangsang ketertarikan dan dan antusiasme
siswa.
7.
Ceramah
merupakan cara yang bermanfaat untuk menyampaikan informasi kepada siswa yang
tidak suka membaca atau yang tidak memiliki keterampilan dalam menyusun dan
menafsirkan informasi.
8.
Sccara
umum, ceramah adalah cara yang paling memungkinkan untuk menciptakan lingkungan
yang tidak mcngancam dan bebas stres bagi siswa. Para siswa yang pemalu, tidak
percaya diri, dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup tidak merasa dipaksa
dan berpartisipasi dan dipermalukan.
9.
Model
pembelajaran langsung dapat digunakan untuk membangun model pembelajaran dalam
bidang studi tertentu. Guru dapat menunjukkan bagaimana suatu permasalahan
dapat didekati, bagaimana informasi dianalisis, dan bagaimana suatu pengetahuan
dihasilkan.
10. Pengajaran yang eksplisit membekali
siswa dengan "cara-cara disipliner dalam memandang dunia (dan) dengan
menggunakan perspektif perspektif altematif” yang menyadarkan siswa akan
keterbatasan perspektif yang inheren dalam pemikiran sehari-hari.
11. Model pembelajaran langsung yang
menekankan kegiatan mendengar (misalnya ceramah) dan mengamali (misalnya
demonstrasi) dapat membantu siswa yang cocok belajar dengan cara-cara ini.
12. Ceramah dapat bermanfaat untuk
menyampaikan pengetahuan yang tidak tersedia secara langsung bagi siswa,
termasuk contoh-contoh yang relevan dan hasil hasil penelitian terkini.
13. Model pembelajaran langsung (terutama
demonstrasi) dapat memberi siswa tantangan untuk mempertimbangkan kesenjangan
yang terdapat di antara teori (yang seharusnya terjadi) dan observasi
(kenyataan yang mereka lihat).
Selain memiliki kelebihan
model pembelajaran langsung juga memiliki beberapa kekurangan. Adapun kelemahan
dari model pembelajaran langsung ialah:
1. Model pembelajaran langsung bersandar
pada kemampuan siswa untuk mengasimilasikan informasi melalui kegiatan
mendengarkan, mengamati, dan mentatat. Karena tidak semua siswa memiliki
keterampilan dalam hal hal tersebut, guru masih harus mengajarkannya kepada
siswa.
2. Dalam model pembelajaran langsung,
sulit untuk mengatasi perbedaan dalam hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat
pembelajaran dan pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan siswa.
3. Karena siswa hanya memiliki sedikit
kesempatan untuk terlibat secara aklif, sulit bagi siswa unkuk mengembangkan
keterampilan sosial dan interpersonal mereka.
4. Karena guru memainkan peran pusat dalam model
ini, kesuksesan strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru. Jika guru
tidak tampak siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias, dan terstruktur,
siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya, dan pcmbelajaran mereka
akan terhambat.
5. Terdapat beberapa bukti penelitian
bahwa tingkat struktur dan kendali guru yang tinggi dalam kegiatan
pembelajaran, yang menjadi karakteristik model pcmbelajaran Iangsung, dapat
berdampak negatif terhadap kemampuan penyelesaian masalah, kemandirian, dan
keingintahuan siswa.
6. Model pembelajaran langsung sangat
bergantung pada gaya komunikasi guru. Komunikator yang buruk cenderung
menghasilkan pembelajaran yang buruk pula dan model pembelajaran langsung
membatasi kesempatan guru unluk menampilkan banyak perilaku komunikasi positif.
7.
Jika
materi yang disampaikan bersifat kompleks, rinci, atau abstrak, model
pembelajaran langsung mungkin tidak dapat memberi siswa kesempatan yang cukup
untuk memproses dan memahami informasi yang disampaikan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Model pembelajaran adalah kerangka
konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan dapat berfungsi
sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pendidik dalam
merencanakan dan melaksanakan aktifitas proses belajar mengajar.
Salah satu model pembelajaran yang
relatif sering digunakan adalah Direct Instruction atau pembelajaran langsung
merupakan suatu pembelajaran yang mempunyai langkah-langkah tertentu yang dapat
menuntun siswa dalam mempelajari suatu materi yang bersifat prosedural. Apabila
guru menggunakan model pengajaran langsung ini, guru mempunyai tanggung jawab
untuk mengidentifikasi tujuan pembelajaran dan tanggung jawab yang besar
terhadap penstrukturan isi/materi atau keterampilan, menjelaskan kepada siswa,
pemodelan/mendemonstrasikan yang dikombinasikan dengan latihan, memberikan
kesempatan pada siswa untuk berlatih menerapkan konsep atau keterampilan yang
telah dipelajari serta memberikan umpan balik.
Model Direct Instruction selain
efektif digunakan agar siswa menguasai suatu pengetahuan prosedural dan
pengetahuan deklaratif sederhana, model ini juga efektif untuk mengembangkan
keterampilan belajar siswa. Selain itu, dapat diketahui pula bahwa tujuan utama
dari pengajaran langsung adalah pemaksimalan waktu belajar siswa.
Model pengajaran langsung memiliki
karakteristik tersendiri dan harus dilaksanakan sesuai dengan prinsip yang
telah ditentukan. Diantara karakteristik model pengajaran langsung yaitu selalu
memiliki tujuan pembelajaran yang hendak dicapai yang mana pelaksanaannya
berdasarkan sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran serta
sistem pengelolaan dan lingkungan belajar agar kegiatan pembelajaran tertentu
dapat berlangsung dengan berhasil.
Adapun prinsip-prinsip yang dimaksud
adalah memulai pelajaran dengan pernyataan singkat tentang tujuan, dilakukan
pengulangan singkat pelajaran lalu, menyampaikan materi baru secara perlahan,
memberi penjelasan secara detail, menyajikan latihan aktif, membimbing siswa
selama latihan, memberikan umpan balik, memberikan pembelajaran secara
eksplisit ketika siswa menyelesaikan tugas kapan saja dibutuhkan, serta
memberikan latihan lanjutan kepada siswa.
Sebelum melaksanakan model pembelajaran langsung, terlebih dahulu
dilakukan perencanaan yang meliputi kegiatan merumuskan tujuan pengajaran,
memilih isi dimana guru harus mempertimbangkan berapa banyak informasi yang
akan disampaikan dalam kurun waktu tertentu, melakukan analisis tugas dan
merencanakan waktu. Pelaksanaan atau kinerja Direct Instructional dapat
dalam bentuk ceramah, demontrasi, pelatihan atau praktik, dan kerja kelompok
yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada siswa melalui tahap persiapan,
penyajian, korelasi, menyimpulkan, dan mengaplikasikan.
Model pembelajaran langsung terdiri dari lima
fase kegiatan: orientasi, presentasi, praktik terstruktur, praktik terbimbing,
dan praktik mandiri. Pembelajaran langsung berpusat pada
guru, tetapi harus menjamin terjadinya keterlibatan peserta didik. Jadi,
lingkungan harus diciptakan yang berorientasi pada tugas-tugas yang diberikan
kepada peserta didik. Adapun sistem penilaian akhirnya dilakukan sesuai dengan
prinsip yang telah ditentukan dimana guru membuat soal yang valid setelah
pelajaran selesai dan memanfaatkan hasil tes untuk memperbaiki proses belajar
mengajar berikutnya.
Adapun kelebihan model pembelajaran langsung adalah guru mengendalikan
isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat
mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa. Namun, karena
model pembelajaran langsung bersandar pada kemampuan siswa untuk
mengasimilasikan informasi melalui kegiatan mendengarkan, mengamati, dan
mencatat, maka tidak semua siswa memiliki keterampilan dalam hal hal tersebut,
sehingga terkadang siswa sulit memahami suatu materi pelajaran yang disampaikan
oleh guru.
3.2
Saran
Model pembelajaran pengajaran langsung dapat dijadikan
alternatif bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah
karena guru dapat mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima
oleh siswa sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai
oleh siswa. Oleh karena itu, diharapkan kepada guru maupun calon guru dapat
menerapkan model pembelajaran ini dalam dunia pendidikan agar tercipta suatu
pembelajaran yang bermakna dimana guru dapat membimbing siswa menuju keberhasilan
dalam belajar.
DAFTAR
PUSTAKA
Joyce
and Weil. 1996. Models of Teaching.
New Delhi: Prentice Hall.
Lefudin.
2017. Belajar Dan Pembelajaran.
Yogyakarta: Deepublish.
Maulana, dkk. 2015. Ragam Model Pembelajarn di Sekolah Dasar. Bandung: UPI Sumedang
Press.
Ni’mah, R. F. 2013. Model Pembelajaran Langsung untuk
Meningkatkan Keterampilan Pengambilan Keputusan Siswa Sekolah Dasar. JPGSD. Vol. 2, No. 1.
Nur, M dan Kardi, S. 2000. Pengajaran Langsung.
Surabaya: UNESA Press.
Pritandhari,
M. 2017. Implementasi Model Pembelajaran Direct Instruction Untuk Meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kreatif Mahasiswa. Lampung: Jurnal
Pendidikan Ekonomi. Vol. 5, No. 1.
Rasmi, N. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Langsung Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Iii Sd Negeri 003 Pulau Jambu. Riau: Jurnal Pajar
(Pendidikan Dan Pengajaran). Vol. 1, No. 2.
Zahriani.
2014. Kontektualisasi Direct Instruction dalam Pembelajaran
Sains. Banda Aceh: Lantanida Journal. Vol. 1, No. 1.

Komentar
Posting Komentar